Jejak Masjid Noer Al Athas Dan Kisah Habib

Empang|Kotahujan.com-Kota Bogor dengan keragaman masyarakatnya yang khas, ternyata memiliki jejak penyebaran agama yang cukup kuat. Sejarah mencatat di kota ini terdapat kerajaan Hindu terakhir di tanah Jawa yang kemudian runtuh oleh kuatnya pengaruh Islam (1579 M). Pada perkembangannya, pengaruh Islam di Bogor kemudian banyak didominasi oleh peran ulama Banten dan Habib dari Yaman. Para ulama tersebut banyak meninggalkan jejak yang hingga kini masih bisa dinikmati. Yaitu berupa masjid yang terus diramaikan jamaahnya. Berdasarkan temuan Tim jejak masjid tua kota Bogor, tercatat ada 4 masjid yang masuk kategori tertua di kota Bogor.

Jejak masjid yang digagas oleh komunitas Kampoeng Bogor beberapa waktu lalu juga mendokumentasikan temuannya dalam Film berdurasi 30 menit. Film tersebut dikerjakan keroyokan dengan melibatkan 4 director yang melibatkan diri dalam produksinya. Salah satunya dokumenter tentang Masjid Noer Al Athas yang dikerjakan oleh Fakhrudin.

Masjid Noer Al Athas menjadi salah satu masjid tua di kota Bogor. Masjid ini berdiri menandai kiprah para Habib mengembangkan ajaran Islam di Bogor. Sejak 1901 masjid dengan nama resmi Noer Al-Athas ini sudah ramai dengan pengikut Habib. Sebutlah Waliyullah Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas, sosok mulia dari Hadramaut, Yaman Selatan yang makamnya hingga kini terus diziarahi umat muslim dari berbagai penjuru nusantara. Makam beliau ada di sisi barat masjid. Karomah sang Habib menjadi magnet ribuan jamaahnya. Sang Habib konon sudah mengetahui siapa saja yang akan dimakamkan di tempat ini saat beliau masih hidup.

Sosok sang Habib begitu kuat hingga banyak memunculkan cerita-cerita kemuliaan beliau. Kekaromahan sang Habib dengan kawasan sekitar (Empang), hingga pada jumlah istrinya sebanyak 99. Masjid ini oleh warga sekitar dikenal Masjid keramat Empang. Selain Masjid dan makam, terdapat juga ruangan peninggalan beliau yang masih utuh dan lengkap hingga saat ini. Ruangan ini dijaga oleh pewarisnya, tidak sembarangan orang bisa masuk.

Bentuk masjid dan menara Noer Al Athas pun dibuat dan terinspirasi dari menara masjid Nur di Tarim, Yaman. Maulidan dan Likuran (malam ke-21 Ramadhan) menjadi tradisi yang hingga kini membuat Masjid ini dikunjungi ribuan jamaah dari berbagai penjuru. Masjid Noer Alatas memiliki jarak yang cukup dekat dengan Masjid Agung Empang, hal ini menjadi salah satu alasan masjid ini tidak dipakai untuk Sholat Jum’at.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: