Tim Jejak Masjid Tua Kuak Kisah Empat Masjid

Bogor|Kotahujan.com-Kegiatan susur masjid tua yang digulirkan Kampoeng Bogor, pada hari ini, senin (23/8), mulai menapaki kegiatan turun lapangan. Peserta yang terbagi dalam empat kelompok kajian masjid, masing-masing mengunjungi lokasi sasaran. Yaitu kelompok Atthohiriyah yang mengunjungi Masjid Agung Empang Atthohiriyah, kelompok An Nur yang mengunjungi Masjid An Nur Tauhid, kelompok Al Falak yang mengunjungi Masjid Al Falak, dan kelompok Al Mustofa yang mengunjungi Masjid Al Mustofa.

Kelompok Atthohiriyah mendatangi Masjid Agung Empang Atthohiriyah di Jl. R Aria Wiranata Empang Bogor, pukul 14.00 WIB. Nadya, Juna, Jojo dan Elly langsung melakukan observasi pada masjid yang berdiri sejak 1815 ini. Masjid yang berada di sisi barat alun-alun Empang sekilas terlihat tata ruang seperti jaman Sunan Kalijaga. Dimana ada alun-alun, pusat pemerintahan dan masjid. Apalagi saat dikonfirmasi dengan catatan sejarah, kawasan Empang pernah dijadikan pusat pemerintahan oleh para Bupati Bogor (1754 M).

Sementara itu tak jauh dari lokasi masjid ini, kelompok An Nur yang terdiri dari Taufik, Desma, Fawas, opang, dan Oni juga mendatangi masjid An Nur Tauhid. Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Kramat Empang berlokasi di Jl. Lolongok. Kedatangan mereka disambut Ustad Syariff, sosok yang diserahi tanggung jawab mengurus masjid ini. Terlihat bangunan masjid yang masih mencirikan bangunan masa awal berdiri (1828). Bangunan ini terintegrasi dengan keberadaan makam pendiri yang banyak di-ziarah-i umat, yayasan pendidikan Islam Tauhid dan Madrasah.

Masjid ini didirikan oleh Habib yang berasal dari Yaman Selatan. Yaitu Waliyullah Al Habib Abdullah Bin Muksin Al Athas (1828 M). Sebelum Habib Abdullah Bin Muksin Al Athas wafat diketahui bahwa banyak peziarah yang datang untuk menuntut ilmu (memperdalam agama Islam). Banyaknya orang arab yang berkunjung ke Empang dan menetap, menyebabkan wilayah ini sering disebut-sebut ‘Kampung Arab’.

Di lokasi ini terdapat 7 buah makam pada bangunan yang sama. Makam tersebut adalah makam Alm. Habib Abdullah Bin Muksin Al Athas (wafat Selasa 29 Zulhijah 1351 H ) dan 4 putranya, seorang putri dan seorang santri dari Habib Abdullah. Saat ini keturunan asli dari Habib Abdullah sudah pada generasi ke-6, mereka masih berdomisili dikawasan tersebut.
Uniknya masjid ini tidak pernah dipakai untuk shalat jum’at. Kabarnya hal ini terjadi karena dulunya berfungsi sebagai mushola dan wilayah masjid ini tidak cukup menampung jamaah yang banyak. Ada juga yang menyebutkan saat ada adzan di masjid lain yang dekat, suaranya masih terdengar, sehingga masjid ini tidak mengadakan shalat jumat.

Kelompok lainnya, yaitu kelompok Al Falak ternyata menjadi kelompok yang paling sedikit pesertanya, hanya satu orang saja. Kelompok ini mendatangi yang masjid Al-Falak yang ada di Pagentongan kelurahan Loji. Masjid ini konon sudah berdiri sejak tahun 1901. Masjid Al-Fallak saat ini, sejak 11 bulan lalu sedang direnovasi. Tim ini bertemu dengan salah satu keturunan langsung pendiri pesantren Al-Falak, KH. Falak, yaitu KH. Hasballah. Beliau merupakan generasi ke-4 dari keluarga Falak yang saat ini di usianya ke 72 tahun masih tetap aktif mengajar di lembaga pendidikan Al-Falak. Dari beliau tim mendapatkan cerita tokoh pendiri pesantren, sejarah perkembangan, sampai dengan kultur yang masih tetap dijaga oleh masyarakat sekitar.

Perkembangan pesantren Al-Falak di kawasan pagentongan ini sedikit banyak mempengaruhi perkembangan kultur masyarakat di sekitarnya, hal ini terlihat dari perayaan-perayaan hari besar islam yang masih dilakukan oleh masyarakat dan telah menjadi agenda tahunan yang mampu mendatangkan tamu dari berbagai daerah.

Kelompok Mustofa yang mendatangi Masjid Al Mustofa di kelurahan Bantarjati tak kalah serunya. Kelompok sebanyak 4 orang ini langsung disambut pak Mukti, selaku pengurus masjid. Pak Mukti dengan senang hati terlihat membagi pengetahuannya tentang sejarah masjid yang didirikan oleh gabungan ulama Banten dan Cirebon. Diceritakan oleh beliau bahwa masjid ini didirikan oleh Tubagus Mustofa Bakri bersama 3 ulama lainnya pada tahun tertulis 1307 M. Data ini konon tercatat di salah satu bangunan masjid yang sayangnya sudah tidak ada lagi. Tim juga ditunjukkan pada keberadaan Al Qur’an tulis tangan yang ditulis oleh anak keturunan Tubagus Mustofa Bakri.

Saat disinggung keberadaan para pendirinya, pak Mukti kemudian mengajak tim ini ke arah makam para pendiri masjid dan anak keturunannya. Kompleks makam tua ini letaknya sekitar 200 meter dari masjid. Untuk mencapai lokasi tim harus menyeberang kali Cibagolo dan menembus kebon bambu.

Aksi turun lapangan pada hari pertama ini direncanakan akan terus didalami oleh masing-masing kelompok. Banyak cerita sejarah masjid dan lingkungan yang mempengaruhinya yang belum tergali. Rasa penasaran yang membuncah sepertinya menjadi spirit para peserta untuk terus menelusuri jejak masjid tua kota Bogor. Menapak Identitas Jejak Masjid Tua Kota Bogor pun akan berlanjut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: