Menambah Makna dan Nilai Lebih Kebun Raya Bogor

Workshop Internasional Kebun Raya Bogor (KRB) 2010 dengan tema “Arti penting KRB di Kota Bogor” yang berlangsung tanggal 3 hingga 10 Juli 2010 lalu menghasilkan beberapa rancangan design arsitektur dan usulan kebijakan yang dianggap dapat mendukung keberadaan dan melindungi KRB. Sangat terasa keberadaan KRB di kota Bogor memberikan berbagai mamfaat yang baik lingkungan, ilmu pengetahuan; sosial hingga ekonomi.

Hampir dua abad lamanya sejak didirikan pada tahun 1817 oleh Gubernur Jendral Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen pada tahun 1817 Kebun Raya Bogor ikut memberikan warna pada peradaban dunia. Meskipun sebelumnya KRB merupakan bagian hutan buatan Kerajaan Sunda dibawah pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, 1474-1513)

Saat ini keberadaan KRB yang memiliki luas 87 hektar dan 15.000 koleksi tanaman tersebut mendapat ancaman serius baik dari dalam KRB maupun dari luar KRB

Diharapkan produk rekomendasi atau desain proposal dari kegiatan Workshop Internasional KRB 2010 ini dapat lebih mengembangkan keberadaan dan peranan KRB terhadap lingkungan dan masyarakat luas.

Terdapat lima rekomendasi gambaran desain yang diajukan lima kelompok dari 30 lebih peserta Workshop KRB 2010. Kelima usulan rekomendasi telah melihat berbagai sudut pandang serta dari berbagai bidang pengetahuan akan keberadan KRB.

Masing – masing kelompok tersebut didamping oleh lima orang Unit Master dari berbagai bidang keilmuan arsitektur dan landscape.

Terdapat beberapa gagasan revolusioner yang di presentasikan oleh beberapa kelompok kerja tersebut yang diharapkan mendukung keberadaan KRB. Dari pembuatan beberapa infrastruktur di dalam dan diluar KRB, hingga usulan pengelompokan dan pemusatan titik-titik keramaian di Kota Bogor serta usulan pengembangan peraturan kota yang mempunyai peran untuk melindungi dan mendukung keberadaan KRB.

Beberapa usulan kelompok kerja yang didampingi oleh Unit Master Prof. Dr. Yahaya Ahmad mengusulkan pengembangan peraturan pemerintah Kota tentang pendirian bangunan baru di Kota Bogor.

Beberapa pengaturan tersebut seperti ketinggian bangunan yang tidak lebih dari tiga tingkat; juga pada penggunaan bahan bangunannya.Pemerintah kota Bogor perlu memperhatikan kebijakan yang berhubungan dengan pengembangan kota, agar pengembangan kota juga berintregrasi dan saling mendukung dengan keberadaan KRB.

Usulan pengadaan dan penetapan area tangkapan air juga menjadi usulan kelompok kerja dampingan Unit Master Lai Chee Kien yang melihat hubungan antara KRB dan Kota Bogor dan hubungan antara pegunungan kawasan hulu Bogor dan kawasan hilir Jakarta. Menurut kelompok kerja ini menyelamatkan Bogor juga menyelamakan kawasan Jakarta.

Sungai Ciliwung mengalir dari kawasan hulu Puncak Cisarua melewati kebun Raya dan mengalir ke kawasan hilir Jakarta. KRB menjadi filter lingkungan terhadap aliran air sungai Ciliwung sebelum ke kawasan hilir Jakarta dan ke teluk Jakarta. Keberadaan KRB mempunyai nilai dan makna tersendiri terhadap aliran sungai Ciliwung

Kelompok ini melihat berdasarkan struktur ruang yang telah ada idealnya pengembangan kota Bogor mengarah ke arah ke Utara menyesuaikan pola ruang yang telah ada di RTRW Kota Bogor yaitu pada pengembangan kawasan prospestik di kawasan Utara. Wilayah Bogor barat seperti kawasan Dramaga dan Cifor dengan potensi dua Setu diharapkan merupakan kawasan yang dilindungi untuk pendukung area kawasan tangkapan air.

Untuk kawasan Selatan lebih menekankan pada peruntukan kawasan konservasi, seperti perlindungan terhadap kawasan-kawasan tangkapan air dengan usulan desain danau banjir, pengembangan sabuk hijau dan sabuk biru sungai

Desain infrastruktur danau buatan tersebut dibangun di sisi kiri kawasan Pulo Geulis. Kawasan tangkapan air Ciliwung didesain menangkap limpahan air sungai Ciliwung ketika debitnya besar di bulan musim penghujan. Danau buatan ini diharapkan dapat memberikan pasokan air tanah kota Bogor selain diharapkan dapat terus mendukung keberadaan KRB. Yang menarik pada desain ini juga mengajak beberapa komunitas seperti komunitas peduli Ciliwung dan komunitas warga Pulo itu sendiri.

Kegiatan kajian dan perecanaan dari “Arti penting KRB di Kota Bogor” dalam kemasan workshop Internasional selama tujuh hari tersebut menghasilkan beberapa gagasan kreatif yang luput dari perhatian birokrat dan legistatif Kota Bogor. Tidak satupun nampak hadir kalangan Birokrat dan Legistatif yang hadir di kegiatan rekomendasi workshop (presentasi) dan penutupan workshop tersebut meskipun dari publikasi panitia disebutkan pemerintah Kota Bogor juga merupakan komite penyelenggara kegiatan tersebut.

Nampak hadir pada kegiatan presentasi tersebut beberapa wakil dari LIPI dan perwakilan Pengelola Kebun Raya Bogor dan perwakilan dari Kebun Raya Perwodadi.

Kegiatan ini di selanggarakan atas dukungan Modern Asian Architecture Network (network) dan International Federation of Landscape Architects (Asean/Asia Pacific Region) dengan pihak tuan rumah Kebun Raya Bogor. Sedangkan kepanitiaan yang terlibat adalah Bogor 100, KRB, Pemerintah Kota Bogor, Landscape Architecture -IPB, CRESPENT-IPB, dan Kampoeng Bogor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: