Penganyam Terakhir dari Desa Semunying Jaya

Bogor 24 Juli 2010
Desa Semunying Jaya Kab Bengkayang dengan luas desa kurang lebih 18 Ribu Hektar dengan karakter perekonomian masyarakat yang mengandalkan keberadaan dan fungsi hutan. Selain berladang dan menoreh / menyadap getah pohon karet, masyarakat juga memamfaatkan hutan untuk diambil rotan dan hasil alam seperti tanaman tanaman “benban”/ pandan, rotan dan rumput “akas” yang diolah menjadi beberapa barang kerajinan tangan dengan berbagai macam fungsi keseharian.
Masyarakat membuat anyaman kerajinan tangan tersebut secara turun temurun. Anyaman diproduksi dari tanaman “rotan”, “benban” dan “akas” setelah dilakukan pengolahan atau perlakuan tersendiri sebelum bahan-bahan tersebut siap dianyam.

Menurut Rusidah yang merupakan penganyam desa setempat, bahan dasar rotan adalah bahan yang mahal, diambil dari kawasan hutan desa. Rotan dan “akas” hutan saat ini menurutnya semakin lama semakin sedikit, yang berlimpah dan hidup didekat sumber air adalah “benban”/ tanaman pandan. Ia mengeluhkan berkurangnya bahan dasar anyaman tersebut karena hutan sebagai lingkungan rotan dan akas berganti dengan perkebunan kelapa sawit.

Surjani Alloy yang diwawantjara tim Asteki (Asosiasi TV Kerakyatan Indonesia) pada awal Juli 2010 lalu merupakan Koordinator Aliansi Masyarakat Adat Kalimantan Barat, membenarkan kondisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa selain hutan milik masyarakat yang dihancurkan perusahan perkebunan kelapa sawit sehingga menghilangkan kebiasaan dan pola kehidupan masyarakat desa yang tadinya kehidupan mereka menggantungkan keberadaan dan mamfaat hutan untuk mereka.

Beberapa produk anyaman yang mempunyai fungsi dan mamfaat untuk kelangsungan penghidupan masyarakat desa terancam tidak dapat lagi diproduksi oleh masyarakat desa. Pasokan kebutuhan dasar anyaman tidak lagi tersedia, hutan digantikan oleh perkebunan sawit. Padahal tanaman rotan memerlukan pohon induk untuk dapat hidup.

Kebiasan menganyam merupakan produk kesenian dan kerajinan tangan yang telah diwariskan secara turun – temurun berangsur akan hilang dan punah. Kedepan belum tentu masyarakat dunia akan tetap mendapatkan karya kerajinan tangan dari masyarakat desa Semunying Jaya yang berbahan dasar dari lingkungan hutan Kab Bengkayang provinsi Kalimantan Barat karena telah berubah menjadi penghasil kelapa sawit. Produksi kelapa sawit dalam skala besar yang tidak hanya dilakukan di Kalimantan Barat menggantikan produksi anyaman khas masyarakat lokal desa setempat.

Dikhawatirkan generasi saat ini merupakan generasi terakhir desa yang dapat menganyam. Masyarakat desa merasa tjemas anak cucu mereka tidak dapat meneruskan kebiasaan hidup seperti ini karena lingkungan sekitar desa mereka telah berganti dengan perkebunan kelapa sawit. Tidak ada lagi kegiatan anyaman dan produk kerajinan tangan yang berbahan baku dari alam akan dihasilkan dari desa tersebut.Transisi budaya tengah terjadi di Kalimantan Barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: